Ibu...
Kaulah bidadari surga, wujud dari indahnya cinta
Pengorbananmu yang abadi, kasihmu yang tergambar suci
Kau yang menenangkan hati ini
Kau pula yang menghapus luka di hati ini
Kau memberiku bahagia lahir batin
Ibu...
Maafkan aku yang belum maksimal memuliakanmu
Maafkan aku yang terlalu banyak memberimu kegagalan
Maafkan aku yang terlalu banyak memberimu kesedihan
Tapi Ibu...
Karena doa mu, kini aku berhasil menemukan
Karena cintamu, aku belajar untuk mencintai
Karena membalas jasamu, takkan pernah bisa aku lakukan
Maka ijinkan aku untuk membahagiakan, memenuhi sebuah harapan, memberimu sebuah senyuman
Lahir batin aku mencintaimu karenaNya
Dari tangan wanita inilah, aku dilahirkan, dibesarkan, dan dibelai kasih sayang. Tangan beliau beda jauh dari tangan Ibu teman-temanku, yang putih, halus, dan perawatan. Beliau yatim sejak tiga bulan dalam kandungan. Karena itu, Ibu hanya bisa menamatkan sekolah hanya sampai sekolah dasar. Walau berpindidikan rendah, Ibu tetap berwibawa dengan kerendahan hatinya, beliau tidak pernah malu bergaul dengan siapa pun, tak mempedulikan status sosial, dan beliau seorang pekerja keras, karena sejak kecil Ibu sudah mencari biaya hidup sendiri. Hal ini terlihat dari tangannya yang mengepal, kasar, dan hitam.
Kini kerja kerasnya sekarang mampu mengantarkannya menjadi pedagang sayur, lebih tepatnya petani sayur yang tak banyak rejekinya, namun bukan sawah milik sendiri, hanya lahan berupa sawah yang dipinjami oleh pemerintah, yang mana suatu saat akan dibangun. Tiap hari tiap malam abis sholat isyak, aku mesti berteman dengan segala jenis sayur mayur, aku kudu nyelupi, ngiketin semua jenis sayur yang kita panen atau kadang kulak dari pengepul. Namun aku bersyukur karena dari sayurlah aku bisa sekolah, bisa makan enak, gak kelaparan, bisa tidur nyenyak, bisa pake baju yang layak sama kayak anak-anak yang lain. Nikmat mana lagi yang mesti aku dustakan??!!!
Teringat dimana aku pernah membersihkan tangan beliau yang waktu itu tangan beliau kena sabit. Lukanya cukup parah, mungkin kalau itu aku, aku bakal nangis saking sakitnya.
[pagi itu] [hari random yang lalu]
"Eni... tolong sekohno tangane ibuk"
Aku bergegas membawa semangkuk berisi air hangat lengkap dengan handuk basah, handuk kering, obat luka, perban dan hansaplas. Aku pegang tangan beliau. Seketika itu, air mataku jatuh saat aku memegang tangannya tapi aku sembunyikan wajahku, karena aku gak mau beliau sedih. Karena itu pertama kalinya aku pegang tangan beliau yang begitu keriput. Tangannya mengepal, kasar, dan hitam, ada begitu banyak memar, bekas luka akibat kena sabit di tangannya. Beberapa luka begitu menyakitkan bahkan beliau menggigil ketika dibersihkan dengan air.
Ini pertama kalinya aku menyadari bahwa sepasang tangan inilah yang mencari nafkah sehari-hari untuk memungkinkan aku membayar biaya sekolah. Memar-memar di tangan beliau adalah harga yang harus dibayar untuk sekolahku dan masa depanku. Dan dari kejadian itu, aku dapat tiga pelajaran berharga :
Pertama, sekarang aku tau apa yang disebut apresiasi. Tanpa beliau, tidak akan sukses aku hari ini.
Kedua, dengan bekerja sama dan saling membantu, aku menyadari betapa sulitnya untuk melakukan sesuatu.
Ketiga, aku menghargai betapa penting dan bernilainya hubungan sebuah keluarga.
Setiap kali ingat pada Ibu, aku selalu berusaha mengenang bagaimana jerih payahnya mengandungku, melahirkanku, merawatku. Aku ingat bagaimana Ibu mengirit uang agar anak-anaknya bisa sehat dan berpakaian layak. Terbayang juga ketika Ibu menanam sayur, berangkat tiap hari jam sembilan pagi, pulang menjelang magrib. Belum lagi kalau hari itu hujan deras, panas yang menyengat. Jadi dari ibulah aku belajar kerendahan hati, belajar bekerja keras, belajar berhemat, dan tidak malu dengan status sosial. Ibu bagiku adalah figur yang gigih. Di usia senjanya, ia masih tetap bekerja karena tidak mau menjadi beban orang lain.
Ibu rajin sekali tahajud, shaum, ngaji, dan beribadah dari dulu. Kadang aku sedih karena belum bisa maksimal memuliakan beliau. Di balik segala kelebihan dan kekurangannya, setiap selesai sholat aku selalu membayangkan Ibu menjadi salah seorang bidadari di surga. Itulah yang selalu membuat aku bersemangat untuk berusaha membahagiakannya. Seandainya aku bisa berbuat kebaikan semoga ganjarannya diberikan juga untuk ibunda yang telah menjadi jalan terlahirnya aku ke dunia ini. Aamiin ya robbal 'alamin.
Melihat tangan Ibu, aku jadi ingat sebuah kisah sahabat nabi yang tangannya dicium oleh Rasulullah SAW. Disitu diriwayatkan ada seorang sahabat yang sangat miskin pekerjaannya sebagai buruh kasar, sehingga ia merasa malu dan tidak pantas jika para sahabat Rasulullah SAW berkumpul. Setiap sholat berjamaah ia selalu mengambil shaf paling belakang namun tepat di tengah-tengah, sehingga jika selesai sholat, kemudian Rasulullah SAW berbalik badan ke arah jama'ah maka pandangan lurus Rasulullah SAW tepat dengannya. Buruh ini sangat mencintai Rasulullah SAW, bila terhalang oleh para sahabat lain yang berada di depannya atau shaf terdepan, ia angkat badannya dan julurkan lehernya, sehingga ia bisa dengan jelas melihat sosok manusia yang sangat dicintainya, pribadi yang sangat agung, walaupun dari jarak jauh. Suatu waktu selesai sholat berjamaah dan berdzikir lalu ditutup dengan do`a, para sahabat bersalaman dengan Rasulullah SAW, namun buruh ini tidak mau bersalaman, berjabat tangan dengan tangan mulia Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam.
Rasulullah SAW pun heran dan bertanya, “Mengapa?”
Buruh tersebut berkata,”tanganku kasar wahai Rasulullah, aku takut menyakiti tanganmu yang sangat lembut dan harum itu."
Karena buruh itu tidak mau maju, maka Rasulullah SAW menyuruh agar mendekat, agar Rasulullah SAW dapat melihat telapak tangan si buruh tersebut. Begitu buruh tersebut memperlihatkan telapak tangannya yang kasar itu, segera Rasulullah SAW menyambar tangan itu dan menciumnya.
"Inilah tangan calon penghuni surga, sebab untuk mendapatkan rezeki yang halal ia bekerja dengan tangannya sendiri" -sabda Rasulullah SAW-
Dari kisah tersebut mampu membuatku yang hanya seorang anak bandel untuk terus berusaha maksimal birrul walidain.
Komentar
Posting Komentar