"Setiap orang punya jatah gagal, habiskan jatah gagalmu ketika kamu masih muda" —Dahlan Iskan.
Terkadang ada yang suka “mengusik” hidupku. Terkadang banyak yang meremehkanku, menyalahkan prosesku, beberapa orang pun ikut mengatur langkah hidupku hanya karena aku belum berhasil mendapatkan sesuatu yang aku inginkan. Padahal setiap orang punya episode hidup masing-masing. Karena setiap orang memiliki air mata dan bahagianya masing-masing. Mereka yang tidak berada di posisiku tidak akan mengerti apa yang sedang aku rasakan. Santai saja.
Aku pernah memimpikan segala usahaku lancar, sempurna tanpa ada kerugian yang berarti, namun bagi Allah kehancuran bisnis inilah yang terbaik untukku. Aku pernah mengharapkan kehidupanku bahagia tanpa cela. Namun nyatanya makin hari aku bertemu dengan kenyataan pahit yang tidak ingin aku terima. Namun bagi Allah kenyataan pahit inilah yang aku butuhkan.
Siapa sih yang mau usahanya gagal? Siapa sih yang mau usaha kerasnya dibuang sia-sia? Siapa sih yang mau nunggu jodoh, nunggu rezeki? Siapa sih yang mau disalahin terus-terusan? Siapa sih yang mau tiba-tiba dibenci padahal ngga ngapa-ngapain? Siapa sih yang mau diletakkan di tempat yang berantakan dan terasa sulit?
Coba siapa yang mau mendapatkan semua itu? pasti ngga ada kan. Karena setiap orang pasti menginginkan sesuatu berjalan mulus dan sempurna seperti yang diharapkan, termasuk aku juga. Tapi Kalo aku selalu melewati hidup dengan sempurna, aku tak akan tau yang namanya bangkit, aku gak akan kenal yang namanya sabar dan ikhlas, aku gak akan tau caranya memaafkan, aku gak akan berusaha untuk terus berjuang, dan aku gak akan kenal yang namanya ketabahan.
Kegagalan-kegagalan yang pernah aku temui bisa jadi cara Allah memberitahuku bahwa apa yang aku inginkan adalah sesuatu yang tidak baik untukku. Aku percaya bahwa ini adalah cara Allah menyayangiku dengan wujud yang berbeda. Mungkin Allah memberiku yang terbaik dengan proses-proses hidup seperti ini. Aku percaya Allah tidak pernah meninggalkanku hidup sendiri meskipun dalam keadaan sehina-hinanya aku.
Sebanyak apapun kegagalanku, selama aku tak pernah berhenti berjuang, selama itu juga aku memiliki kesempatan untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Karena Allah tidak mungkin menitipkan tantangan hebat jika bukan pada hambanya yang memiliki kekuatan hati dan iman yang juga hebat.
Percaya ajah kalo rezeki itu gak pernah tertukar. Entah berapa orang pun yang berusaha mengintimidasi usahaku. Pada akhirnya Allah pasti melihat apa yang tidak orang lain lihat, Allah pasti mendengar apa yang tidak orang lain dengar dan Allah pasti mengerti apa yang tidak orang lain ketahui.
Cukup mensyukuri yang sudah aku capai sejauh ini tanpa harus menginginkan hidup dan tawa seperti orang lain. Tanpa harus meratapi sesuatu yang membuatku sakit. Cukup fokus dengan apa yang aku miliki, yang aku usahakan, ibadah dan doa. Cukup memaafkan diri sendiri karena terkadang aku melakukan kesalahan, kemudian terpuruk dan merasa tidak pantas mendapatkan masa depan yang lebih mulia.
Karena setiap perubahan adalah proses menuju kebaikan. Jadi aku ngga akan berhenti berjuang hanya karena penilaian orang tak sama. Sebagaimana kata orang bijak bahwa rezeki itu adalah ujian. Dimewahkan bukan berarti dimuliakan. Disempitkan bukan berarti dihina. Dua kunci yang meluluskan kita adalah syukur dan sabar.
Komentar
Posting Komentar