Kalau ditanya kapan saya mulai aktif menulis, pastinya ketika pertama kali saya mulai belajar mengenal huruf, lalu lanjut mengeja perkata, perkalimat dan dari situlah saya mulai senang tulis-menulis. Saya mulai belajar menulis meskipun hanya menulis curhatan a.k.a nge-diary. Karena waktu itu belum ada internet apalagi fasilitas blogger seperti sekarang ini.
Dulu awal-awal saya aktif menulis di blogger tahun 2010-an, meskipun waktu itu konten yang saya tulis adalah lirik-lirik lagu favorit saya. Seiring berjalannya waktu ada ajah ide-ide untuk membuat tulisan. Mulai dari tema lagu, drama, seni craft, food art, hobi saya sampai pada akhirnya saya berada di titik terjenuh untuk menulis. Blank!! Nggak tahu apa yang harus saya tulis. Akhirnya saya fakum dan beralih ke sosial media yang lain. Bertahun-tahun saya berhenti menulis di blogger. Blogger saya serasa lembah gersang tanpa ada tanda-tanda kehidupan. Sampai nggak tahu followernya pada ngilang. Hahaha...
Namun setelah beberapa tahun kemudian keinginan saya untuk menulis kembali lagi. Serasa ada semangat baru. Dari situ banyak banget ide-ide yang menari-nari di kepala saya yang sudah minta untuk diilustrasikan dalam sebuah bentuk-bentuk tulisan. Mulailah saat itu juga saya merombak abis blogger saya. Mulai dari tampilannya, membuang konten yang unfaedah, menghapus tulisan yang nggak mutu, dan jadilah blogger saya yang seperti sekarang ini. Meskipun sepi pengunjung. Hahaha...
Saya usahakan setiap hari untuk menulis satu tema. Setidaknya tema-tema yang menurut saya itu menarik dan yang saya suka. Waktu itu saya nggak peduli sama minat pembaca. Terserah mau baca apa nggak, yang penting saya nulis, itu ajah. Seiring berjalannya waktu dan seiring mood menulis saya yang naik turun kayak roll coster, disitu ada tawaran buat menulis kisah pengalaman sebagai anak kembar. Nggak hanya berhenti disitu, saya juga mencoba ikutan sayembara menulis yang diadakan oleh penerbit lokal. Namanya penerbit Wahyu Qolbu. Waktu itu tema sayembaranya adalah tentang penantian terindah. Meskipun banyak gagalnya. Tapi ada satu tulisan saya yang akhirnya menang sayembara dan dibukukan beserta sederet hadiah hiburannya. Menurut saya ini merupakan tips yang menarik untuk membuat seseorang tertarik untuk menulis karena saya cukup prihatin melihat animo masyarakat saat ini terhadap budaya menulis maupun membaca nggak serakus generasi-generasi sebelumnya akibat dari berkembangnya teknologi modern. Apa jadinya jika generasi muda yang diharapakan dapat memajukan peradaban bangsa ini nggak memiliki minat dan budaya membaca maupun menulis yang tinggi? Apakah mampu generasi ini memikul tanggung jawab sebesar itu?
Karena itulah saya ingin menulis, itu ajah. Meskipun nggak sampai mengantarkan saya menjadi blogger expert, lebih banyak hiatusnya karena sibuk dengan menggambar dan deadline. Apa salahnya saya mencoba menulis. Tujuan saya adalah ingin mengasah kemampuan menulis saya dan agar bisa berbagi tentang apa yang saya dapatkan maupun yang akan saya dapatkan. Saya sadar diri kalau saya masih belajar dan akan terus belajar untuk mengoptimalkan apa yang saya pelajari. Saya sadar bahwa di luar sana banyak penulis hebat yang telah menjadi master. Banyak juga blogger expert yang telah memberi inspirasi kepada para pembacanya, khususnya memberikan inspirasi kepada saya pribadi.
Oleh karena itu saya mau berbagi pengalaman kepada teman-teman semua. Saya menulis nggak perlu strategi khusus, “sing penting nulis” apa yang saya lihat, apa yang saya dengar maupun apa yang saya rasakan. Karena ketika saya menulis maka semua pertanyaan yang timbul dari diri saya akan terjawab dengan sendirinya. Jadi nggak perlu jadi penulis, cukup teruslah menulis. Lalu mau tunggu apalagi? Nggak tahu cara menulis dengan benar? Sukar mendapatkan mood untuk menulis? Nggak punya motivasi untuk menulis? Sampai kiamat pun kita nggak akan dapat menjawab semua pertanyaan itu kalau kita sendiri nggak berani memulainya.
Salah satu alasan saya tertarik dengan menulis adalah quote dari Imam Ghazali yang menginspirasi saya yaitu
“Kalau kamu bukan anak raja dan bukan anak ulama besar, maka menulislah.” - Imam Ghazali
Sebuah quote yang menurut saya sangat sederhana namun memang benar adanya bahwa jika kita anak raja atau anak seorang presiden maupun anak dari seorang ulama besar, maka peluang untuk dikenal oleh banyak orang sangat tinggi. Siapa sih yang nggak kenal jika orang tua kita adalah presiden? Tapi, jika kita bukan anak seorang pejabat negara, bukan pula anak seorang ulama besar, dari mana kita bisa dikenal luas? Dari mana kita akan mendapatkan sarana untuk bisa pergi ke belahan dunia lain? Bahkan hidup kita pun hanya seumur usia kita di dunia ini. Setelah kita mati nggak akan banyak orang mengenang keberadaan kita. Paling hanya keluarga. Selebihnya adalah teman atau kolega.
Maka, hal yang paling tepat adalah dengan meninggalkan karya, salah satunya berupa tulisan, itulah buku atau sekadar untuk catatan pribadi semacam blog dan lainnya. Menulis menjadi salah satu pilihan cerdas agar kita bisa hidup selamanya. Selamanya dalam arti selalu dikenang oleh banyak orang meski kita telah tiada. Karena sebagaimana kata Pramoedya Ananta Toer bahwa :
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”
Mengapa demikian? Pertama, menulis merupakan upaya untuk menyampaikan ide atau gagasan. Dari situlah perubahan-perubahan besar dapat dilakukan, dimulai dari sebuah ide yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Dari tulisan itulah orang terinspirasi lalu termotivasi kemudian tergerak untuk melakukan perubahan. Tentunya perubahan ke arah yang lebih baik yang membawa banyak orang mendapatkan kemaslahatan maupun kebaikan.
Kedua, atas ide atau gagasan yang kita tuangkan dalam bentuk tulisan, baik itu berupa artikel di media massa atau buku maupun berupa karya yang lain, akan menghantarkan kita melanglang buana. Misalnya menjadi pembicara sukses yang diundang ke berbagai negara yang disebabkan oleh karya kita. Meskipun saat ini saya belum menjadi pembicara sukses. InsyaAllah segera...aamiin.. (ngarep banget...#plakk)
Ketiga, menulis akan membuat hidup kita hidup abadi. Kok bisa? Ya, tulisan-tulisan itulah yang kelak membuat orang lain, entah mereka ada di mana akan selalu mengenang kita. Coba kita ingat Buya Hamka. Sudah berapa lama beliau pergi meninggalkan kita. Tapi melalui karya-karyanya kita tetap mengenangnya hingga sekarang.
Jadi jika kita ingin mengenal dunia maka membacalah, dan jika kita ingin dikenal oleh dunia maka menulislah atau buatlah sebuah karya. Karena karya adalah dokumentasi bahwa kita pernah ada.
Jadi itulah beberapa alasan saya kenapa saya menulis. Sebagai sarana saya untuk berbagi kepada para pembaca dalam sebuah tulisan, dan tentunya saya belajar banyak dari para senior yang sudah expert dalam dunia penulisan. Nah… bagaimana dengan alasan kalian? ^^
Komentar
Posting Komentar