Aku tau kalau aku gak seperti berlian yang dikagumi banyak orang karena keindahannya, melainkan aku hanyalah seseorang yang bukan orang pilihan. Aku juga bukan yang terpilih maupun dipilih. Aku hanyalah seonggok sampah tak berguna yang didaur ulang setiap harinya agar lebih indah, yang didaur ulang setiap harinya agar lebih kuat, yang didaur ulang setiap harinya agar lebih bermanfaat.
Tak bisa kubohongi ketika melihat orang lain sukses, di hatiku terbesit tanya “aku kapan?” Di situlah aku mencoba mencari kebaikan di dalamnya yang belum bisa kulihat, karena aku yakin Allah selalu punya alasan dari kejadian yang menimpaku. Ini adalah perjalananku, Dia menempatkanku di sini, itu rencana-Nya, jadi aku harus menjalani dan mempercayai-Nya. Allah tau aku lelah, Allah tau aku kesulitan tapi aku juga harus tau bahwa Dia gak akan pernah menempatkanku dalam situasi yang gak bisa aku tangani. Hal itu pernah terjadi ketika aku menyelesaikan tugas akhir robot. Setiap menghadap dosen, yang aku laporkan adalah kegagalan.
“Pak, robotnya trobel gak bisa jalan.”
“Dicoba lagi.”
“Pak, program softwarenya ok tapi serialnya eror.”
“Dicoba lagi.”
“Pak, robotnya jalan tapi datanya kacau.”
“Perbaiki lagi.”
“Pak, robot saya sudah selesai tapi waktunya sudah expired."
Saat itu lemes rasanya melihat kenyataan gak seindah harapan. Rasanya air mataku ingin tumpah seketika. Namun, ketika aku terdiam, beliau menasehatiku,
"Dengarkan saya, kamu tidak akan pernah gagal selama kamu tidak menyerah.”
Aku yang sudah hilang harapan menjawab dengan mata terpejam,
“Tapi nasi sudah jadi bubur, Pak! Sudah gak bisa dikejar.”
Beliau pun kembali berucap,
“Itulah tugas kamu menjadikan bubur itu menjadi bubur spesial, tinggal kamu tambahin ayam suwir lengkap dengan krupuknya.”
Mulailah aku meracik lagi, menata lagi dan mengatakan pada diriku sendiri
“Jangan lelah bersabar, akan ada saatnya aku bahagia”
Aku pun terus berusaha hingga berakhir dengan indah. Dari situlah aku tau, terkadang kebahagiaan harus diraih dengan pengorbanan tapi pengorbanan belum tentu mendapatkan kebahagiaan, bukan hasil yang penting tapi bagaimana aku menikmati proses untuk mencapai keberhasilan dan menjalaninya dengan keyakinan bahwa janji Allah pasti. Laa tuflihul mi’aad.
Inilah kisahku, caraku, mungkin jika aku gak pernah gagal, aku gak akan punya cerita ini untuk aku ceritakan.
Komentar
Posting Komentar