Saya bersyukur dan bangga sebagai orang yang dilahirkan dan tumbuh besar di kota yang terkenal dengan sebutan kota pahlawan ini, tidak lain adalah kota Surabaya. Dimana sejarahnya yang sangat diperhitungkan dalam perjuangan merebut kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajah. Tau nggak? Surabaya memiliki icon yang menjadi landmark dari kota pahlawan ini, yaitu patung ikan hiu Sura (Suro) dan Buaya (Boyo) yang terletak di depan Kebun Binatang Surabaya atau tepatnya berada di Jalan Diponegoro, Darmo, Wonokromo, Surabaya.
Mengapa patung Sura dan Buaya justru dijadikan icon dari kota yang bergelar kota pahlawan ini? Nah, perlu kita ketahui icon Surabaya ini nggak terlepas dari cerita rakyat. Konon, di lautan yang sangat luas, terjadilah perkelahian antara ikan hiu Sura dan Buaya. Dari perkelahian itu membuat Sura kelelahan dan membuat kesepakatan pembagian wilayah dengan Buaya, yaitu lautan untuk Sura dan daratan untuk Buaya.
Namun karena ikan di lautan sudah habis, Sura pun mencari mangsa di sungai yang merupakan daerah kekuasaan Buaya. Buaya yang mengetahui hal itu murka kepada Sura dan akhirnya pertarungan pun dimulai kembali. Sura mengigit ekor Buaya dan Buaya menggigit ekor Sura hampir putus. Pertarungan pun berakhir ketika Sura kembali ke lautan dan Buaya tetap di daratan mempertahankan kekuasaannya.
Terlepas dari cerita rakyat tentang perkelahian Sura dan Buaya tersebut, patung Sura dan Buaya merupakan icon dari Kota Surabaya ini memiliki makna, yaitu Sura dan Buaya merupakan simbol dari sifat keberanian pemuda Surabaya yang nggak gentar menghadapi bahaya.
Sedangkan secara simbolis Sura dan Buaya ini memiliki makna yang berbeda disamping legenda cerita rakyat tersebut, adalah kata “Surabaya” diyakini memiliki arti filosofis yaitu “berjuang”. Kata “Surabaya” berasal dari kata Sura yang berarti “selamat” dan Baya berarti "bahaya", sehingga arti Surabaya adalah "Selamat dari menghadapi Bahaya".
Bahaya yang dimaksud adalah serangan tentara Tar-Tar yang hendak menghukum Raja Jawa. Seharusnya yang dihukum adalah Kartanegara, karena Kartanegara sudah tewas terbunuh, maka Jayakatwang yang diserbu oleh tentara Tar-tar itu. Setelah mengalahkan Jayakatwang, orang Tar-Tar itu merampas harta benda dan puluhan gadis-gadis cantik untuk dibawa ke Tiongkok. Raden Wijaya tidak terima diperlakukan seperti itu. Dengan siasat yang jitu, Raden Wijaya menyerang tentara Tar-Tar di pelabuhan Ujung Galuh hingga mereka menyingkir kembali ke Tiongkok. Selanjutnya, dari hari peristiwa kemenangan Raden Wijaya inilah ditetapkan sebagai hari jadi Kota Surabaya, dan Surabaya sepertinya sudah ditakdirkan untuk terus bergejolak dan membara. Tanggal 10 November 1945 adalah bukti jati diri warga Surabaya yaitu berani menghadapi bahaya serangan Inggris dan Belanda yang sekarang kita kenal dengan nama hari pahlawan.
Di zaman sekarang, setelah ratusan tahun dari cerita asal usul Surabaya tersebut, perlambang kehidupan darat dan laut itu, sekaligus memberikan gambaran tentang warga Surabaya yang dapat menyatu walaupun asalnya berbeda. Dimana mereka berasal dari berbagai suku, agama, etnis dan ras, namun dapat hidup rukun dalam bermasyarat. Itulah Surabaya. Kota kelahiranku. Nah, gimana sudah nggak penasarankan dengan icon asal usul kota kelahiranku. Saking legendarisnya sampai aku abadikan dalam karya sketsaku ini. Berapa persen kemiripannya jika disandingkan dengan foto aslinya... hehe ^^
Komentar
Posting Komentar