Rahasia Ketenangan Hati

Gambar
Dirinya dikelilingi cinta, pasangan, sahabat, kerabat, keluarga. Takkan ada satu malam pun ia merasa sendiri, sejuta kasih sayang dan perhatian yang ia miliki. Betapa beruntungnya, ia pasti bahagia. Dirinya dititipi kegelimangan harta, apapun yang diinginkannya, amat mudah menjadi miliknya. Betapa beruntung, ia pasti bahagia. Dirinya bertubuh cantik, sehat bugar nan idaman, pasti nyaman sekali menjalani hari tanpa keluhan, betapa beruntung, ia pasti bahagia. Dirinya memiliki segudang prestasi, belajar yang bagus, akademis yang bagus, satu persatu seluruh mimpinya ia capai, karirnya begitu sempurna hingga ia begitu dihormati betapa beruntung, ia pasti bahagia. Dahulu aku bermimpi untuk memiliki itu semua. Hal-hal yang kelihatannya membuatku bahagia tapi hari demi hari, aku mempelajari; Mengenal manisnya cinta mesti sepaket pula dengan pahitnya patah hati. Mengenal keberlimpahan mesti sepaket pula ketika saatnya Allah sedikitkan. Mengenal nyamannya sehat mesti sepaket pula ketika saatnya...

Kisah Di Balik Gedung SIOLA



Kali ini saya tertarik untuk mengabadikan salah satu bangunan bersejarah di kota pahlawan ini dalam tulisan dan sketsa saya, yaitu gedung SIOLA. Berapa persen kemiripannya jika disandingkan dengan foto aslinya... hehe ^^




Okeh!! Kenapa saya mengabadikan sejarah SIOLA ini? karena saya sangat terkesan dengan kisah dibalik keberadaan gedung ini. Perlu temen-temen ketahui, dahulu gedung ini bernama White Laidlaw. Gedung ini didirikan tahun 1877 oleh seorang pemodal asing asal Inggris yang bernama Robert Laidlaw. Sejak berdiri bangunan ini menjadi pertokoan pertama dan terbesar di Hindia Belanda. Whiteaway Laidlaw dan Co adalah merk dagang tempat grosir terbesar di dunia saat itu.

Gedung ini juga pernah digunakan pejuang Indonesia untuk menahan serangan sekutu yang datang dari utara. Di atas toko ini menjadi pusat konsentrasi pejuang Indonesia menjatuhkan diri dengan bom setiap tank Inggris yang masuk Tunjungan. Saat pertempuran 10 November 1945, gedung ini dijadikan tempat para pejuang untuk menyusun strategi melawan pasukan Inggris. Sampai kemudian gedung ini dibom Inggris, yang tersisa hanyalah tembok luar, sementara atap hingga lantainya hancur. Pertempuran sengit membuat pejuang membumihanguskan gedung ini. Baru pada tahun 1960-an, gedung ini digarap oleh para pebisnis yang kemudian mendirikan gedung ritel bernama SIOLA yang merupakan kependekan dari nama depan para pendiri tersebut. Mereka adalah Soemitro, Ing Wibisono, Ong, Liem dan Ang dengan konsep yang sama dengan konsep penjualan Mall.

Nah, setelah masa Kemerdekaan, SIOLA menjadi salah satu pusat perbelanjaan di Surabaya. Letaknya berada di sebelah utara kawasan Tunjungan. Namun pada akhir tahun 1998 SIOLA ditutup karena kalah saing dengan pusat perbelanjaan lainnya dan pada tahun 1999 gedung ini digunakan oleh Ramayana Department Store dengan nama Ramayana SIOLA. Sekarang bangunan ini bernama Tunjungan City.

Dan pada tahun 2015, gedung SIOLA telah diambil alih oleh Pemerintah Kota Surabaya yang dialihfungsikan sebagai kantor Dinas Pendudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Surabaya, kantor Badan Koordinasi Pelayanan dan penanaman Modal (BKPPM) dan juga sebagai Museum Surabaya sampai sekarang. Nah, udah gak penasaran kan kisah dibalik kemegahan gedung ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hitam Putih Zaman Putih Abu-abu

Rahasia Ketenangan Hati

Beautiful in White