Aku nggak pernah minta kepada Allah untuk terlahir dari keluarga mana. Tapi, ya beginilah takdirku yang terlahir dari keluarga broken home. Menurutku, broken home nggak harus akibat dari perceraian orang tua. Karena bagiku broken home adalah rumah tanpa cinta, bukan rumah tanpa orang tua yang lengkap. Karena menurutku banyak rumah tangga yang mubazir ketika anggota keluarganya tak bisa menghadirkan rasa cinta, kenyamanan, ketenangan untuk seluruh anggota keluarga. Berapa banyak rumah tangga yang masih berstatus sebagai suami istri, tetapi keduanya seperti barang yang mudah rapuh, gampang pecah, salah bersikap sedikit saja, seolah dunia kiamat. Tak ada senyum sedikit pun. Pernikahan macam ini seolah utuh, memang mereka tak bercerai, tetapi broken home dalam arti sesungguhnya. Itulah yang aku alami selama ini.
Setiap hari aku harus menelan pahit, getir dan ketakutan setiap kali orang tuaku cekcok. Tak jarang perabot rumah rusak akibat pertengkaran mereka. Cacian, pukulan dan tendangan kerap mendarat di tubuhku. Aku kerap dijadikan “tong sampah” sebagai tempat pelampiasan amarah mereka. Waktu aku masih kecil, yang bisa aku lakukan hanya menangis dan bersembunyi sampai pertengkaran mereka reda. Baru setelah agak sunyi, aku berani menemui ibuku. Sekali lagi tak ada pemandangan asing yang bisa aku lihat selain air mata Ibu yang membasahi pipi keriputnya.
Ya, bisa dibilang aku sudah kehilangan figur seorang Ayah. Mungkin karena beliau adalah laki-laki yang berperangai kasar, temperamen, sikapnya pun keras. Dia sering melampiaskan amarahnya kepada ibuku maupun terhadapku. Baik secara fisik maupun mental. Oleh karena itu, hubunganku dengan beliau tak berjalan dengan baik. Kalau orang lain bisa mengatakan Ayah adalah laki-laki pertama yang membuat gadis kecilnya jatuh cinta. Namun, kalimat indah itu terasa menyakitkan di telingaku. Tapi bagaimanapun juga beliaulah yang sudah ditakdirkan oleh Allah menjadi jalan terlahirnya aku ke dunia ini.
Pernah suatu ketika karena nggak kuat dengan kondisi keluarga yang broken, aku hampir bunuh diri untuk mengakhiri hidupku. Karena aku merasa, “aku capek begini terus, aku ingin mati saja”. Namun, niat itu aku urungkan. Aku tak pernah berani mengakhiri hidupku. Aku tak punya alasan apa-apa selain Tuhan melarang perbuatan itu. Aku takut hukuman-Nya. Aku pun takut balasan-Nya. Ya, setidaknya kalau aku nggak bisa lagi bertahan untuk diriku sendiri maka alasan satu-satunya adalah aku bertahan hidup untuk orang yang ingin melihat aku hidup, terlebih untuk Tuhan yang telah menciptakanku penuh hikmah, memberiku privilege untuk hidup, yang masih setia memberikanku oksigen bahkan di saat aku lupa bersyukur kepada-Nya, yang telah memberiku rezeki setiap hari, yang masih memberiku orang tua meski keadaannya broken home. Dan yang telah menjagaku dari menyakiti diri sendiri, menjauhkan aku dari jalan-jalan yang salah.
Seiring berjalannya waktu, aku mulai menerima keadaanku. Kondisi keluargaku. Meski orang tuaku broken home, tak ada alasan bagiku untuk tak berbakti pada mereka. Sebab merekalah yang telah menjadi jalan terlahirnya aku ke dunia ini. Meski aku merasa rapuh ketika teman-temanku bercerita tentang keharmonisan keluarganya. Namun, aku berusaha tetap tersenyum meski sebenarnya aku juga terluka, tapi bagi mereka senyum itu tanda aku bahagia ataupun tanda aku baik-baik saja. Mereka tak tahu dan tak pernah tahu bahwa di balik senyum indahku ada derita, ada luka, ada beban yang berat untuk dipikul seorang diri. Semua yang terjadi di hidupku, aku hadapi sendiri. Aku menangis sendiri sampai aku tertidur. Lalu, aku bangkit kembali dan mengusap air mataku sendiri.
Dan selama ini, aku telah tumbuh dari hal-hal yang menghancurkanku. Tapi berkat itu, aku semakin kuat dari hari ke hari. Meski sering rasanya menyayat hati tatkala aku tersenyum di atas pilu. Jujur aku lelah, aku ingin menyerah. Tapi aku tak bisa. Aku tak boleh kalah. Aku harus jadi wanita kuat. Sebab, Allah ingin aku menjadi hamba-Nya yang menang. Dan aku harus berterima kasih kepada Allah untuk itu semua.
Tak berhenti disitu. Sebagai anak yang tumbuh dari keluarga broken home sempat membuatku minder untuk menjalin sebuah "hubungan". Mungkin karena aku terlanjur trauma dengan sosok pria yang menjadi kepala rumah tangga dalam keluargaku. Sebab banyak asumsi yang mengatakan kalau berasal dari keluarga broken home, biasanya anak-anaknya nanti kalau berkeluarga bakal broken home juga. Itulah yang membuat saya ketakutan untuk membangun sebuah keluarga. Tanpa sadar pemikiran-pemikiran negatif itu telah meracuni otakku. Sebab, sama seperti anak-anak broken home lainnya, tentu tidak mudah tumbuh dalam kondisi internal keluarga yang demikian. Tapi, lagi-lagi Allah menolongku, mempertemukanku dengan orang-orang pilihan-Nya. Aku membuka pertemanan yang lebih luas dan mencoba beradaptasi dengan lingkungan baru.
Lalu, bagaimana akhirnya aku bisa bangkit merubah kondisi, kemudian berani mengambil peran sebagai "changemaker" setidaknya untuk diriku sendiri. Caranya adalah dengan cara memutus mata rantai pola hubungan keluarga yang keliru. Dan, balik lagi dengan mengenal Allah-lah yang menjadi titik balik semuanya. Allah mengulurkan pertolongan-Nya dengan begitu sempurna, setahap demi setahap, merengkuh jiwaku yang kala itu sedang terluka untuk kemudian menjadikannya kembali utuh bahkan jauh lebih tangguh. Perlahan aku belajar menjalankan kewajibanku sebagai hamba-Nya. Memperbaiki hubunganku dengan-Nya. Allah menuntunku untuk naik level dari titik minus menuju titik nol. Merubah cara pandangku terhadap semua skenario kehidupan. Bahwa tidak ada masa lalu yang pahit, yang ada hanyalah masa lalu yang memberi pelajaran dan menguatkan. Juga tidak ada perubahan bagi orang yang selalu merasa bahwa dirinya adalah korban atas suatu keadaan. Tapi, yang ada bahwa kita adalah pemeran utama dalam kehidupan kita sendiri. Kitalah yang menentukan akan dibawa kemana arah hidup kita ke depan. Kitalah pemegang kendalinya. Mungkin, aku tidak akan pernah menjadi pribadi setangguh sekarang tanpa background tersebut. Aku juga tidak akan punya semangat belajar seluarbiasa ini untuk menjadi perempuan tanpa hikmah dari background broken home tersebut. Maka bersyukurlah jika kamu punya background broken home, karena broken home itu adalah modal untukmu berbuat lebih dalam hidup. Jika kamu takut keluargamu kelak bernasib sama, kamu bisa menggunakan modal ini untuk mendidik dirimu dengan lebih serius.
Begitulah pengalamanku sebagai orang yang tumbuh besar dari keluarga broken home. Aku bersyukur berkat itu sebab aku bisa memiliki kekuatan super dari kesepian, kesedihan, kekecewaan, kepayahan, dan kesempitan yang telah aku rasakan selama ini. Karena dari kesepian aku bisa belajar menemukan kebahagiaan tanpa melalui orang lain dan mengenal diriku lebih dalam. Dari kesedihan dan kekecewaan juga, aku bisa belajar menemukan hikmah dari keadaan buruk. Dan berusaha mencoba melihat positif saat semua tampak negatif.
Dan dari kepayahan maupun kesempitan yang aku alami selama ini, aku bisa mendapatkan kekuatan dari dalam, kekuatan yang membuatku bertahan dalam hidup yang kejam. Bahwa ternyata aku tak tahu apapun soal hidupku. Tak ada seseorang pun yang dapat memahamiku secara utuh, dan tak ada seseorang pun yang dapat menyembuhkan lukaku selain kembali ke jalan-Nya. Memohon ampun atas segala kesalahan di masa lalu. Lalu, bersyukur kepada Allah yang telah mendatangkan kesepian, kesedihan, kekecewaan, kepayahan, kesempitan yang mengembalikanku ke jalan-Nya. Bahkan ini adalah salah satu jalan bagiku untuk bertumbuh menjadi pribadi tagguh, memiliki sabar seluas langit, memiliki hati yang teguh dengan menerima segala ketetapan-Nya. Alhamdulillah 'ala kulli hal.
Komentar
Posting Komentar