Rahasia Ketenangan Hati

Gambar
Dirinya dikelilingi cinta, pasangan, sahabat, kerabat, keluarga. Takkan ada satu malam pun ia merasa sendiri, sejuta kasih sayang dan perhatian yang ia miliki. Betapa beruntungnya, ia pasti bahagia. Dirinya dititipi kegelimangan harta, apapun yang diinginkannya, amat mudah menjadi miliknya. Betapa beruntung, ia pasti bahagia. Dirinya bertubuh cantik, sehat bugar nan idaman, pasti nyaman sekali menjalani hari tanpa keluhan, betapa beruntung, ia pasti bahagia. Dirinya memiliki segudang prestasi, belajar yang bagus, akademis yang bagus, satu persatu seluruh mimpinya ia capai, karirnya begitu sempurna hingga ia begitu dihormati betapa beruntung, ia pasti bahagia. Dahulu aku bermimpi untuk memiliki itu semua. Hal-hal yang kelihatannya membuatku bahagia tapi hari demi hari, aku mempelajari; Mengenal manisnya cinta mesti sepaket pula dengan pahitnya patah hati. Mengenal keberlimpahan mesti sepaket pula ketika saatnya Allah sedikitkan. Mengenal nyamannya sehat mesti sepaket pula ketika saatnya...

Stop Bullying Curhatan Orang



Kalau ada yang curhat di sosmed, entah itu marah, kesal apapun itu, terus ada yang bilang

“Iiih lebay...”

“Banyakin bersyukur...”

“Dikit-dikit drama...”

“Curhat itu sama Tuhan, jangan di sosmed...”

“Makanya ngaji yang bener, dikit-dikit curhat, cari perhatian mulu...”

Apalagi yang dengan mudahnya menulis komen tanpa mikir sepeti ini

"Manusia yang benar tauhidnya, gak akan depresi ataupun stress, karena ia paham dunia ini memang tempat ujian dan sementara, dan pasti mati. Coba deh banyakin dzikir, dekatkan diri sama Tuhan, harus banyak-banyak baca Al-Qur'an, kalau sedih harus langsung wudhu lalu sholat, gak usah muluk-muluk kemauannya, gak bakalan depresi, imannya ajah yang lemah."

Jadi, maksud kamu orang yang stress dan depresi itu tauhidnya gak benar? Oke deh buat kamu "si yang paling bertauhid" "yang paling sempurna imannya" "yang auratnya sudah tertutup sempurna pake hijab lebar panjang bercadar tapi tidak dengan mulutnya."

Pliss kamu kalau gak punya empati mending diam, karena orang yang banyak bicara dan kurang rasa empati biasanya "bodoh". Gak tau tapi ngaku sok tau. Gak punya pengalaman tapi sok berpengalaman. Pelit rasa simpati tapi "merasa" paling dermawan.

Plisss kenali proses seseorang untuk menyembuhkan dirinya, untuk berdamai dengan lukanya. Mungkin dengan cara curhat seperti itu adalah cara dia agar tetap waras. Mungkin dia gak ada pendengar.

“Kamu kan muslim, seharusnya curhatkan masalahmu ke Tuhanmu, di atas sajadahmu, sujudmu!”

Kamu mungkin gak tau, bisa jadi sujudnya dia lebih dari kamu, bangun malamnya dia lebih rajin dari kamu, dzikirnya dia lebih banyak dari kamu. Kamu gak tau apa yang terjadi di balik tirai seseorang.

“Terus kalau rajin ibadah kenapa masih aja curhat sana sini?”

Kamu lupa kalau manusia itu makhluk sosial, jadi butuh “pendengar” selain curhat ke Tuhannya. Kamu paham gimana rasanya stress, down, berada di titik terendah? Kembali futur?

Orang stress, down, lagi futur itu gak butuh diceramahi bro. Dia cuma butuh “didengarkan”, disupport. Misal kamu ceramahi orang gila, kamu suruh sholat, lantas apakah dia kembali normal. Gak kan? Sebab dia butuh terapi mental dulu, baru kamu dekatkan ke rohaninya, religinya. Misal kamu seorang guru matematika tapi murid kamu autis, apakah kamu langsung mengajarkan matematika ke dia. Gak kan? Sebab dia butuh terapi dulu, baru kamu mengajarkan metode yang tepat untuknya.

Kalau pun misal dengan sholat dan bersyukur itu menjadi sembuh mungkin gak akan ada yang namanya spesialis kejiwaan, gak ada juga tuh yang namanya RS jiwa, sarjana psikologi. Perlu kamu ingat luka batin itu bukan perkara kecewa sehari dua hari, bukan pula karena ujian atau masalah sebulan dua bulan.

Jadi berhenti ngata-ngatain ataupun nyinyirin curhatan orang di sosmed. Kalau kamu gak bisa ngasih solusi, mending kamu diam atau mendoakan. Biasakan bersikap bijak untuk jaga lisan kamu.

Aku cuma mau bilang biasanya Allah menguji hambanya dengan apa yang hambanya ucapkan lhooo...

"Siapa yang menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati kecuali mengamalkan dosa tersebut." (HR. Tirmidzi)

Ingat, kamu gak akan dibiarkan mati sebelum merasakan hal-hal yang dengan mudahnya kamu cela. Jangan merasa paling sempurna imannya hanya karena “merasa” hidayah Allah masih melekat. Menganggap orang lain rendah dan mencela keimanannya di depan umum adalah hal paling gak sempurna buat orang yang mengaku sempurna.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hitam Putih Zaman Putih Abu-abu

Rahasia Ketenangan Hati

Beautiful in White