Rahasia Ketenangan Hati

Gambar
Dirinya dikelilingi cinta, pasangan, sahabat, kerabat, keluarga. Takkan ada satu malam pun ia merasa sendiri, sejuta kasih sayang dan perhatian yang ia miliki. Betapa beruntungnya, ia pasti bahagia. Dirinya dititipi kegelimangan harta, apapun yang diinginkannya, amat mudah menjadi miliknya. Betapa beruntung, ia pasti bahagia. Dirinya bertubuh cantik, sehat bugar nan idaman, pasti nyaman sekali menjalani hari tanpa keluhan, betapa beruntung, ia pasti bahagia. Dirinya memiliki segudang prestasi, belajar yang bagus, akademis yang bagus, satu persatu seluruh mimpinya ia capai, karirnya begitu sempurna hingga ia begitu dihormati betapa beruntung, ia pasti bahagia. Dahulu aku bermimpi untuk memiliki itu semua. Hal-hal yang kelihatannya membuatku bahagia tapi hari demi hari, aku mempelajari; Mengenal manisnya cinta mesti sepaket pula dengan pahitnya patah hati. Mengenal keberlimpahan mesti sepaket pula ketika saatnya Allah sedikitkan. Mengenal nyamannya sehat mesti sepaket pula ketika saatnya...

Semesta Kembar



Twin sister...
Kita sama tapi sejatinya kita berbeda
Wajah kita sama tapi cara berpikir kita berbeda
Mata kita sama tapi pandangan kita berbeda
Tubuh kita sama tapi kekuatan fisik kita berbeda
Kita ditempa di tempat yang sama tapi kekuatan mental kita berbeda
Kita diberi masalah yang sama tapi cara menyelesaikan kita berbeda
Kita diuji dengan ujian yang sama tapi kesabaran dan keikhlasan kita berbeda
Kita hidup bersama tapi cara menjalani hidup kita berbeda
Itulah dunia anak kembar

Tulisan ini merupakan artikel keempat gue yang membahas tentang dunia anak kembar. Sebelumnya gue pernah menulis beberapa artikel tentang kekembaran karena banyak yang penasaran dunia anak kembar itu seperti apa sih, secara gue sendiri juga kembar. Okeh!! Sebelumnya kenalin nih buat yang belum tau gue kalau gue punya kembaran. Kenalin gue Enichan dan kembaran gue bernama Inachan. Gue nggak pernah minta sama Tuhan terlahir duplikat seperti ini, meskipun keluarga nggak punya keturunan kembar, mungkin ini adalah anugerah tersendiri buat gue sebab orang yang terlahir kembar seperti gue itu jarang terjadi. Kalau pun ada kebanyakan di luar sana ada yang terlahir satu dan kembaran yang satunya mati. Ada juga yang terlahir cacat alias kembar siam. Ada juga kasus kembar parasit yang disebut dengan heteropagus twins atau monozygotik asimetris, di mana jaringan tubuh pada salah satu bayi kembar dalam keadaan cacat dan gagal berkembang, dan sangat tergantung pada sistem pembuluh darah dari tubuh kembarannya untuk bertahan hidup. Alhamdulillah gue terlahir bukan sebagai kembar fraternal tapi satu plasenta, dua kantung amnion alias kembar identik. Inilah wujud kita berdua.

By the way... kalau ngomongin dunia anak kembar, nggak akan ada habisnya, adanya malah makin penasaran sebab dunia anak kembar itu unik. Meskipun gue sendiri kembar, kadang gue merasa amazing sendiri kalau melihat anak kembar. Rasanya selalu kepengen nanya “Kalian sering berantem nggak sih? Gelut, jambak-jambakan gitu?” Biasanya mereka yang gue tanya bingung mau jawab apa dan saling memandangi kembarannya.”

Persis setiap kali orang-orang suka nanya ke kita berdua “Kalian bedanya apa sih?” Gue jawab, gue mukanya agak tirus, kalau ina bulet. Ditanya lagi sama orang, “Apa sih bedanya Eni-Ina?” Ina jawab, gue bulet kalau Eni tirus. Eh terus-terusan ada ajah yang nanya “Eni sama Ina bedanya apa sih?” Dalam hati gue bilang, “Lama-lama nih orang minta gue gamparin satu-satu deh”

Sama sebelnya ketika gue nonton film anak kembar yang endingnya, salah satu dari kembarannya berakhir menyedihkan, langsung gue berhenti nonton, rasanya pengen nonjok yang membuat tuh film. Gue merasa itu tokoh diciptakan nggak adil. Nggak ada kembaran yang satunya baik bagai peri, yang satunya jahat bagai iblis. Buat gue itu mustahil, karena setiap orang, setiap manusia punya sisi baik sekaligus sisi buruk.

Rasanya jadi anak kembar itu...?

Gue merasa seperti anak kembar pada umumnya, selalu dibanding-bandingkan, mulai dari fisik sampai prestasi. Akibatnya kita diam-diam saling membenci. Kalian bisa bayangin nggak sih ketika dalam hal akademis misalnya, kembaran lo jauh lebih berprestasi dari pada lo. Kan IPK gue selalu dibawah kembaran gue. Gue juga nggak seberapa bisa hardware meskipun kita sama-sama kuliah di jurusan Teknik Mekatronika dan orang-orang banyak nanya.

"Kok yang satunya bisa, kembaran yang satunya nggak bisa."
"Kembarnya ngerti ini tapi yang satunya kok nggak."
"Bla...bla...bla..."

Aaaarrhhh!! Sebel banget kan. Di rumah juga gitu, mentang-mentang Ina sejak lahir sering sakit-sakitan, kadang bikin dia manja sok-sokan. Maklumnlah meskipun kembar kondisi fisik kita berbeda. Gue lebih tahan banting daripada Ina, tapi tetep ajah gue yang mesti disalahin. Pernah dia pulang kuliah jalan kaki gegara sudah malem, dia hubungin hp gue tapi hp gue mati dan gue ketiduran. Eh nyampe rumah, gue yang malah kena salah.

Orang rumah : “Kamu tuh kok tega sama kembaran, jemput kek, apa kek?”
Gue : “Sudah tak tunggu tapi dia belum selesai, tak telpon juga nggak diangkat, ya sudah gue pulang buat nyarcher hp.”
Orang rumah : “Kamu itu ya...bla...bla...bla...”

Pernah waktu sekolah dulu, kalau gue yang juara satu, pasti Ina yang juara dua. Begitupula sebaliknya kalau Ina yang juara satu, pasti gue yang juara dua. Kebetulan waktu itu bagi siapa ajah yang juara wajib datang ikut rapotan untuk menerima penghargaan dan sertifikat dari kepala sekolah. Anehnya baik gue maupun Ina ketika mendapat juara dua nggak pernah mau datang ikut rapotan, sampai orang tua kita gemes melihat tingkah kita berdua.

Orang tua: "Kenapa sih kalian nggak mau ikut datang rapotan, kan sama-sama juara."
Kita kompak jawab, "Males juara dua, juara itu juara satu, gengsi dong, muka sudah nyamain, sama-sama makan nasi tapi juara dua."

Kadang gue mikir, “Kita kan kembar identik tapi kenapa bisa beda banget gini sih?” Butuh waktu lama buat gue nemuin jati diri. Gue melakukan apapun yang gue suka tanpa harus melibatkan kembaran. Begitu juga dengan Ina, dia melakukan yang dia sukai. Karena gue nggak mau jadi bayangannya Ina. Gue nggak mau jadi bayangan kembaran gue. Begitu juga Ina nggak mau jadi bayangannya gue. Emang Kagebunshin apa?

Always bertengkar

Kebetulan gue sama kembaran punya hobi hampir sama. Kita berdua sama-sama suka baca manga, suka anime, suka menulis dan menggambar. Bahkan manga dan anime kita sama. Karena hobi kita kebanyakan sama jadi sering ributnya. Sebab gue sama kembaran gue nggak pernah akur, dikit-dikit tengkar. Mau di rumah, di sekolah, di toko buku, di kampus, jalan bareng ajah berantem. Berantemnya tuh bukan merebutkan sesuatu, cuman jaim ajah. Prinsipnya, pokoknya harus gue yang paling benar. Menggambar ajah ribut.

Gue : “Woiii...lihat, gue mau gambar tema ini duluan, lo nyari yang lain sono.”
Ina : “Enak ajah, gue kan yang duluan ngusulin kalau bagus gambar ini, lo ajah tuh asal ambil ide orang.”
Gue : “Gue duluan bego, daritadi lo ngorok, gue sudah corat-coret duluan.”
Ina : “Lo tuh yang plagiat..!!”
Gue : “Yang plagiat itu elo, elo, lo, lo, lo, kuadrat...”
Ina : “Elo kuadrat-kuadrat...”

Akhirnya nggak jadi gambar semua, kertas gambar berantakan…Hufft!! Masak pun juga berantem. Kan kalau sore kita berdua sudah diberi tugas sama orang tua. Beberes rumah, bersih-bersih dan masak. Pokoknya orang tua pulang, itu rumah harus bersih dan makan malam sudah tersedia. Kebetulan kita sama-sama tomboy. Agak gugup ajah kalau disuruh masak tapi gue suka masak. Apalagi bikin video masakan buat konten youtube gue.

Gue : “Woiii...bantuin gue donk bikin vlog masakan.”
Ina : “Okeh, beres.”
Gue : “Pertama, masukin ini dulu...bla..bla...”
Ina : “Bukannya itu dulu ya yang harus dimasak?”
Gue : “Ya...nggak lah...baca yang teliti tuh resep.”
Ina : “Elo yang salah baca bego...harusnya telor dulu yang dimasukin.”
Gue : “Aahh...lo yang salah baca, jelas-jelas gue yang menulis resepnya kok.”
Ina : “Dikasih tau ngeyel…”
Gue : “Aahh...lo tuh kalau nggak mau bantuin pergi sono, bikin ribut ajah.”
Ina : “Elo tuh dikasi tau ngandal...bego...!!”

Akhirnya itu vlog full dengan pertengkaran kita berdua. Masalah baju pun kita berantem. Mungkin kalau kita kecil dulu mulai kepala sampai kaki sama mulu. Kompak deh, paling cuma beda warnanya atau warna sama tapi model beda, lah wong yang mendandanin orang tua gue, tapi kalau sekarang gue ogah pake baju samaan. Kecuali kalau dipaksa orang tua pake baju samaan gegara acara keluarga. Jadi terpaksa deh. Pernah waktu keburu berangkat kuliah, kita tengkar gegara baju. Ketika keluar kamar, baju yang kita pake sama.

Ina : “Ngapain lo pake baju sama, males gue pake baju samaan kayak lo, muka sudah nyamain, nyamain baju juga, ganti sana!”
Gue : “Enak ajah, kan gue duluan yang pake, lo tuh yang harusnya ganti.”
Ina : “Gue duluan yo, kan gue bangun duluan, mandi duluan!!”
Gue : “Tapi kan gue yang nyiapin baju duluan.”
Ina : “Pokoknya lo harus ganti.”
Gue : “Enggakaakk...nggak...gak...gak!!”
Ina : “Harus...harus...harus...kudu ganti!!”

Akhirnya ganti semua sambil teriak-teriak dalam kamar. Pernah dulu waktu sekolah SMA, kita sama-sama main sepak bola dan berada satu tim. Maklumlah kita mah tomboy. Waktu itu kita disebut kembar Tachibana oleh teman-teman dan juga guru gegara tendangan dan umpan kita berdua bagus. Tapi ya gitu kita nggak mau mengalah, pokoknya gue yang harus cetak gol. Parahnya lagi, teman se-tim gue nggak bisa bedain gue sama kembaran gue. Jadinya tuh sepak bola rusak!

Bahkan minta acc ke dosen ajah ribut, yang ada malah tuh dosen pusing melihat kita ribut mulu...hahaha!! kata dosennya.

“Sudah kalian silahkan berantem, nanti siapa yang menang, saya acc duluan.”

Waktu mengerjakan tugas robot juga gitu, di Lab kita ribut sendiri, temen gue melihat kita ribut sudah biasa, justru kalau nggak ribut malah aneh bahkan mereka berharap kita ribut. Kalau gue sudah serius mengerjakan tiba-tiba ada si kampret Ina asal ambil komponen robot gue, maka perang pun tak terelakkan lagi. Saling lempar solder, lempar kabel, lempar komponen, lempar robot, lempar dosen. (*uppss nggak ding siapa yang berani hahaha... ) Kalau dipikir-pikir kenapa ya gue nggak bisa seperti kembar yang lain? Kompakan gitu? Kita kan kembar identik yang nggak identik. Maksudnya kita kembar yang nggak bisa sama, nggak mau sama dan nggak mau disamain. Tapi jangan salah paham dulu kalau kita tengkar, perang, gelut dalam segala hal bukannya kita saling benci tapi itu cara kita untuk saling memahami. Ibarat musuh yang saling melengkapi. Jadi yang nggak paham kita nggak usah asal bacot deh!

Telepathy

Kita nggak pernah saling curhat setiap ada masalah pribadi. Antara malu dan gengsi. Soalnya gue nggak mau jadi beban kembaran gue. Tapi gue merasa Ina selalu tau apa yang gue pikirin, padahal gue nggak pernah cerita tentang masalah-masalah gue, kesulitan-kesulitan gue. Paling banter kalau saking beratnya, gue ambil air wudhu, sholat, lanjut berdoa, mojok di tembok sambil menulis diary.

Pernah waktu itu, gue kesulitan banget mengerjakan proyek robot. Gue nggak mau gangguin Ina karena dia sendiri sudah terbebani dengan tugasnya dia. Rencananya besok gue bertanya ke temen ajah, akhirnya gue tidur ajah, capek, istirahat, otak-atik nggak berhasil. Tau-tau waktu bangun sudah dibenerin.

Ina : “Tuh sudah gue benerin... semangat.”

Begitulah karakter kembaran gue. Apa yang diputuskan adalah yang terbaik buat gue. Meski kita nggak pernah saling curhat, tapi kita bisa tau apa yang menjadi beban pikiran kita berdua setiap kali ada konflik batin.

Tukar peran

Mungkin sebagian orang kembar, tukar posisi atau tukar peran itu pengecut. Tapi bagi kita nggak masalah. Asal nggak tukar suami ajah. Pernah waktu sekolah dulu, gue sama kembaran tukar kelas.

Gue : “Hari ini gue mau tuker ke kelas lo deh, bete gue sama mata pelajaran hari ini, lagian gue punya PR matematika nih, kan lumayan kalau gue tanyain ke guru kelas lo, gue nggak perlu repot-repot ngerjain deh!”
Ina : “Dasar pemalas!! Oke, gue juga bete di kelas gue”
Gue : “Tapi ada syaratnya lo jangan malu-maluin gue.”
Ina : “Seharusnya gue yang bilang gitu, kalau lo berani malu-maluin gue, mampus lo.”

Akhirnya misi tukar peran pun berhasil bersama PR terselesaikan. Pernah juga kita tukeran waktu ujian, lagi-lagi kita pake jurus bayangan... hahaha... (*sstt peringatan yaa, ini dilarang keras meniru!! ) Tapi waktu sidang proposal Tugas Akhir kemarin, Ina nggak mau diajak tukeran, katanya gini.

"Muke gilee... ogah gue, terserah lo lulus apa nggak!!" hahaha...

Tapi nggak enaknya itu kita sering disalahpahami sama orang. Pernah waktu itu partner IC (Instruktur Comting buat maba) gue mengira kalau gue ambil jatah tidur di perpus ketika sibuk-sibuknya menghandle maba, padahal yang tidur itu Ina bukan gue, tuh orang tiba-tiba nyamperin gue, marah-marah sampai nggak ngijinin gue bernapas!! Waktu jadi maba pun kita berdua disalah pahami sama senior dikira kita pindah gugus.

“Anak ini loh abis pita merah sekarang ganti pita hijau, jangan pindah-pindah gugus kamu!!” jangankan pindah gugus, gue ke toilet ajah nggak sempet!

Serunya lagi gue bisa usil sama mabanya Ina. Jadi ceritanya waktu itu kita berdua sama-sama jadi panita orientasi mahasisawa baru (OSPEK) dan kebetulan kita dapat posisi yang sama sebagai Instructure Comting (IC) yang tugasnya menghanlde maba. Hari pertama lancar-lancar ajah, gue bertugas sebagai IC penjembut maba di gugus 1 dan Ina sebagai IC standby maba di gugus 4. Menjelang hari kedua ada keanehan di gugus gue, dimana maba yang gue handle seharusnya berjumlah 15 orang, lah kok jadi 25 orang, sisanya ini punya siapa. Gue tanya satu-satu tuh maba yang sekiranya tampang-tampangnya mencurigakan.

Gue : “Kamu gugus mana?”
Maba: “Gugus 4 kak.”
Gue : “Gugus 4 kok disini, ini gugus 1.”
Maba : “Tapi kan kakak ketua IC kita.”
Gue : “Masa sih? Yakin?”
Maba : “Iyaa kak beneran.”
Gue : “Siapa nama IC mu?”
Maba : “Namanya kak Ina kak.”
Gue : “Sekarang coba baca nama saya.”
Maba : “Loh kok berubah tapi kakak kan kak Ina.”

Hahaha... puas gue melihat muka bingungnya, akhirnya gue kembalikan tuh maba ke habitatnya. Gegara kita berdua, tuh ospek jadi rusak. Ada kejadian lucu waktu ujian semester kemarin, dimana gue sama Ina beda ruang ujian dan ada temen gue yang minta contekan ke gue tapi gue nggak merasa dia minta contekan, tiba-tiba waktu pulang gue dihadang. Dia marah-marah

Teman : “Hee men sini lo, sombong lo, pesen gue nggak lo bales sama sekali, coba cek hp lo..!!”
Gue : “Nggak ada pesan tuh!!”
Teman : “Lah terus yang gue chat tadi sapa?”
Gue : “Mana gue tau...”
Teman : “Nomer hp lo gue namai men-1 apa men-2...?”
Gue : “Aahh... nggak taulah..!!”
Teman : “Makanya lo tuh jangan kembar, bikin orang bingung ajah.”
Gue : “Itu mah derita elo... hahaha...”

Pernah juga waktu gue enak-enak jalan tiba-tiba dipanggil sama dosennya kembaran gue...

Dosen : "Eh, kamu sini."
Gue : "Iya, ada apa pak?"
Dosen : "Saya mau jelaskan dikit, proyek akhirmu itu sebenernya gini... bla...bla...bla..."
Gue : (*Angop gue dengerinnya puanjang banget*)
Dosen : “Gimana kamu paham yang saya jelaskan barusan?"
Gue : "Nggak sama sekali pak." (sambil garuk-garuk)
Dosen : "Loh kok bisa?" (muka frustasi)
Gue : "Ya saya memang nggak paham yang Bapak jelaskan ke saya barusan."
Dosen : "Sebenernya kamu itu bimbingan saya nggak sih!"
Gue : "Nggak pak...hehe.."
Dosen : "Kenapa nggak bilang dari tadi?" (muka lemes)
Gue : "Lah Bapaknya nggak nanya.. hehehe...” (senyum wajah tak berdosa)

Presentasi pun juga gitu, waktu gue presentasi proyek akhir kemarin, pembimbing gue nggak percaya kalau gue bimbingan beliau dan gue nggak dibolehin masuk ruangan sebelum bisa membuktikan kalau gue bimbingan beliau. Gimana coba membuktikannya, gue hampir gila menghadapi dosen pembimbing proyek robot gue.

Dosbim : “Sebentar, kamu bimbingan saya nggak?”
Gue : “Iya pak, saya bimbingan Bapak.”
Dosbim : “Kok pede ngomongnya, apa buktinya, coba sini buktikan dulu ke saya.”

Geeerrr!! Seisi ruangan serentak ketawa semua. Akhirnya kembaran gue dipanggil dengan temen gue sebagai saksinya dan jadilah tontonan mereka. Aaaahh!!

Hal yang bikin kita bahagia

Pertama, akhirnya kita bisa lulus sekolah bareng sejak kecil meskipun membutuhkan seribu satu purnama. Lalu lanjut kuliah bareng. Banyak perjuangan dibalik kelulusan kita. Mulai dari konflik batin, masalah internal, eksternal, keluarga bahkan lingkungan juga. Tapi kita mampu melewati bersama. Saling menguatkan dan mendukung. Kita berdua percaya bahwa Allah menitipkan kelebihan di setiap kekurangan, menitipkan kekuatan di setiap kelemahan, menitipkan suka cita di setiap duka cita, menitipkan harapan di setiap keraguan dan Allah berjanji semua itu indah pada waktunya.

Hal kedua, adalah kita bisa berkarya bersama. Menepis semua keraguan untuk mencapai impian dan cita-cita yang ingin kita wujudkan bersama. Tak peduli orang lain berkata apa, tak peduli mereka mengatakan kita apa. Tak perlu juga meminta mereka untuk mengerti. Cukup melakukan yang kita sukai. Meskipun sebagian orang bilang kalau anak kembar hidup bersama nggak bakalan ada kemajuan hidup. Nggak juga tuh. Kita fine-fine ajah. Meski bersama, dunia yang kita jalani berbeda. Kadang meski bersama kita sibuk dengan kegiatan maupun petualangan kita masing-masing bahkan kita saling cuek, nggak peduli, terserah kembaran mau ngapain karena kita berdua sudah punya tujuan masing-masing. Jadi kalau ada yang bilang kalau masih bersama kembaran bakal nggak ada kemajuan hidup, buat kita itu omong kosong. Kita bebas mengubah dunia yang kita inginkan.

Tapi meskipun begitu, gue sama kembaran gue kompak nggak bakal nyari pasangan kembar. Gue nggak mau punya keluarga yang muka suami dan anak-anak gue sama semua. Gue nggak mau punya keluarga foto kopian. Gue juga nggak mau punya mertua sama dengan kembaran gue. Meski sebagian orang mengatakan itu unik, buat gue nggak ada bagus-bagusnya. Seperti nggak punya jati diri ajah, samaan mulu. Kasian mertua gue, entar sakit mata melihatnya... hahaha... 



Seperti pernikahan viral ini kan mau kaliaaaaannn... 
Ga akan pernah terjadi!! hahaha...


Okeh!! itu sebagian suka dukanya jadi anak kembar seperti gue. Karena buat gue jadi anak kembar itu serasa punya sahabat sejati, musuh sejati, saingan sejati dan nggak mudah, karena kita harus bisa menemukan jati diri kita masing-masing. Tapi, keseruannya jadi anak kembar adalah bikin warna warni tersendiri buat gue pribadi dan nggak menutup kemungkinan bikin iri yang melihat keseruan kita.

By the way... thanks banget yang sudah kenal gue sama kembaran gue, sebab nggak semua orang bisa punya teman anak kembar. Lo harus bersyukur, nggak cuma punya satu, tapi dua teman sekaligus. Sebab punya temen kembar itu anugerah sekaligus musibah... hahaha... Nah, elo yang memiliki orang dekat yang kembar patut bersyukur nih. Sebab populasi anak kembar itu nggak banyak-banyak amat. Jadi punya sahabat kembar itu sebuah keberuntungan tersendiri. Elo nggak cuma punya satu, tapi langsung punya dua sahabat sekaligus. Meski terkadang ada yang menyebalkan juga harus berhadapan dengan anak kembar yang suka usil, iseng, tapi secara umum punya teman maupun sahabat kembar itu menyenangkan. Jadi jaga baik-baik sahabat kembar lo. Percaya deh, kalau kita berpisah dengan saudara kembar misalnya karena ikut suaminya, yang kita kangenin adalah pertengkarannya.

Thanks yang sudah nyempetin baca artikel ini. Next time kita bakal ketemu lagi dalam tema yang lain. See you guys... ^^

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hitam Putih Zaman Putih Abu-abu

Rahasia Ketenangan Hati

Beautiful in White