Rahasia Ketenangan Hati

Gambar
Dirinya dikelilingi cinta, pasangan, sahabat, kerabat, keluarga. Takkan ada satu malam pun ia merasa sendiri, sejuta kasih sayang dan perhatian yang ia miliki. Betapa beruntungnya, ia pasti bahagia. Dirinya dititipi kegelimangan harta, apapun yang diinginkannya, amat mudah menjadi miliknya. Betapa beruntung, ia pasti bahagia. Dirinya bertubuh cantik, sehat bugar nan idaman, pasti nyaman sekali menjalani hari tanpa keluhan, betapa beruntung, ia pasti bahagia. Dirinya memiliki segudang prestasi, belajar yang bagus, akademis yang bagus, satu persatu seluruh mimpinya ia capai, karirnya begitu sempurna hingga ia begitu dihormati betapa beruntung, ia pasti bahagia. Dahulu aku bermimpi untuk memiliki itu semua. Hal-hal yang kelihatannya membuatku bahagia tapi hari demi hari, aku mempelajari; Mengenal manisnya cinta mesti sepaket pula dengan pahitnya patah hati. Mengenal keberlimpahan mesti sepaket pula ketika saatnya Allah sedikitkan. Mengenal nyamannya sehat mesti sepaket pula ketika saatnya...

Gerimis Senja Di Hatiku



Ketika sendirian, yang terpikir olehku adalah orang tua, masa depan dan diriku sendiri. Dan hal itulah yang bikin aku patah hati terhebat, tatkala melihat orang tuaku semakin menua tapi aku belum bisa jadi apa-apa, karena kusadar kehidupan ini gak selamanya bergantung pada orang tua.

Sedang kehidupanku masih terus berlanjut memenuhi relung jiwaku, meskipun putarannya kadang menyeretku ke dalam berbagai kesakitan. Tercabik-cabik, hancur berkeping-keping. Sakit! Sangat menyakitkan!

Kadang aku minder melihat orang-orang di sekitarku telah menemui musim seminya, sebagian dari mereka telah menemui pelanginya. Sedang aku? Masih telak berada dalam badai nestapa!

Karena hal itulah aku sering mengalami hal pahit di keluarga ini, terutama mental. Mentalku setiap hari direbus oleh ketidakmungkinan dan hal-hal yang tak terduga, perlakuan fisik kerap aku terima. Aku gak minta apa-apa di keluarga ini, bahkan gak minta dilahirkan juga. Aku gak minta apa-apa, bahkan dukungan pun tidak. Aku hanya bertahan hidup semampu yang aku bisa. Aku pun berdiri sendiri bersama sembilu sepi yang menyayat hati. Berteman dengan syair-syair kekecewaan, menempuh jalan yang aku sendiri tak tau arahnya, mengembara menerebas takdir hidup tanpa membawa apa-apa, lelah tak terkira memang, berulang kali patah. Tapi aku bertahan hidup karena orang ingin melihat aku tetap hidup.

Menyakitkan sekali bukan menjalani konsekuensi hati yang telah patah ini. Tapi pada akhirnya aku hanya bisa menerima semuanya, memaksa diri untuk seikhlas-ikhlasnya dan melanjutkan langkah untuk tetap hidup. Apapun hasilnya nanti, aku pasrah, berharap Tuhan memberiku hal-hal yang indah di ujung sana.

Maaf jika kelahiranku adalah kegagalan buat kalian. Maaf belum bisa mengukir bahagia buat kalian. Maaf karena aku belum bisa menanam bangga di hati kalian. Maaf kalo aku masih jadi beban. Maaf kalo kalian kecewa menyekolahkan aku tapi belum ada hasil. Aku bodoh di hal akademik, dan aku kurang skill seperti yang kalian minta dan harapkan. Maafkan aku.

Aku sudah mencoba berbagai cara, namun belum berhasil. Bisakah kalian menunggu sedikit lagi? Kalo pun tak berhasil, kuharap kalian mengikhlaskan kematianku saja. Dan jangan menangisi kepergianku karena aku masih belum bisa menjadi apa-apa untuk kalian. Maaf.

Saat ini aku masih mencoba berusaha memenuhi harapan kalian meski seringkali diremehin. Sakit sekali rasanya  namun bentuk ujian gak bisa aku pilih, bagaimana ia datang gak mampu aku kendalikan. Tapi satu hal yang pasti bahwa yang mengutusnya adalah Allah.

Maka kemana lagi tempatku memohon pertolongan ketika sakit, sedih dan kecewa itu datang, selain padaNya? Ku yakin bersama Allah, segala kesakitan akan terbasuhkan, segala kecewa akan tertuntaskan.

Ku yakin sederas apapun hujan akan berakhir menjadi rintik. Begitupun seberat apapun masalahku akan berakhir jadi pelajaran. Karena ku yakin Allah gak akan menitipkan ujian diluar batas kemampuan dan kesanggupan hambanya. Ku percaya bahwa kebahagiaan hanyalah tentang waktu, maka aku akan tetap disini, memupuk pohon harapan, bertahan sebentar lagi. 

Bismillah...

Ya Rabb, yakinkan aku bahwa semua akan baik-baik saja, genggam tanganku untuk melewati semuanya termasuk menerima apa yang gak aku inginkan. Mungkin air mataku sering menetes, namun sungguh aku gak menyesali takdir. Bahkan keluhku kerap kali terdengar, namun sungguh aku gak mengutuk apa yang ada.

Aku tau semua ini atas kuasamu maka peluk aku saat semua gak seperti yang kumau. 

Ya Rabb, saat ini aku butuh kun fayakun-MU, Allahumma yassir wala tu'assir-MU. Sungguh besar harapan ibuku padaku maka bantulah aku, berilah aku kejaiban-MU, sukseskanlah aku, bukan semata-mata untuk diriku tapi untuk kedua orang tuaku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hitam Putih Zaman Putih Abu-abu

Rahasia Ketenangan Hati

Beautiful in White