Rahasia Ketenangan Hati

Gambar
Dirinya dikelilingi cinta, pasangan, sahabat, kerabat, keluarga. Takkan ada satu malam pun ia merasa sendiri, sejuta kasih sayang dan perhatian yang ia miliki. Betapa beruntungnya, ia pasti bahagia. Dirinya dititipi kegelimangan harta, apapun yang diinginkannya, amat mudah menjadi miliknya. Betapa beruntung, ia pasti bahagia. Dirinya bertubuh cantik, sehat bugar nan idaman, pasti nyaman sekali menjalani hari tanpa keluhan, betapa beruntung, ia pasti bahagia. Dirinya memiliki segudang prestasi, belajar yang bagus, akademis yang bagus, satu persatu seluruh mimpinya ia capai, karirnya begitu sempurna hingga ia begitu dihormati betapa beruntung, ia pasti bahagia. Dahulu aku bermimpi untuk memiliki itu semua. Hal-hal yang kelihatannya membuatku bahagia tapi hari demi hari, aku mempelajari; Mengenal manisnya cinta mesti sepaket pula dengan pahitnya patah hati. Mengenal keberlimpahan mesti sepaket pula ketika saatnya Allah sedikitkan. Mengenal nyamannya sehat mesti sepaket pula ketika saatnya...

Suara Langitmu Mengetuk Pintu Hatiku



Aku mengenalmu melalui suara langit. Suara lantunan adzan sebagai suara cinta langit untuk bumi. Aku tersihir oleh pesona suara langit yang kamu kumandangankan.  Suara langitmu serasa membelah keheningan malam. Ya, aku memang suka suara adzan dibanding suara lainnya, makanya aku gak suka jika ada orang ribut saat adzan berkumandang. Apalagi yang adzan itu suaranya bagus seperti yang aku dengar di siaran TV menjelang waktu Maghrib. Seperti suaramu.

Saat itu aku belum merasa bahwa aku sudah sedikit demi sedikit memberikan hatiku untukmu. Namun, aku menyukaimu bukan karena cinta pada pandangan pertama, karena aku gak percaya itu, yang aku tau kamu adalah sosok berbeda dari setiap laki-laki di lingkunganku, yang kurasa mereka adalah robot yang hanya dilatih untuk bermain program. Tapi tidak denganmu, rupanya kamu dilatih untuk menyamankan hatiku.

Hal terindah yang kurasakan setiap menjelang subuh adalah saat mulai terdengar suaramu mengumandangkan adzan. Aku segera bergegas ke masjid untuk jama’ah sholat subuh dan duduk dengan tenang mendengarkan suara langitmu sampai selesai. Tapi, jika aku berhalangan, aku akan berdiri di atas balkon kamarku, menikmati kemerduan suara cinta langitmu sambil menatap bintang yang gemerlap indah di cakrawala.

Tak hanya suara adzanmu yang mampu menyihirku, tapi lantunan merdu suara ayat-ayat suci dari mulutmu ketika kamu memuji Rabb-mu. Ya, aku menyukai semua yang ada pada dirimu. Pribadimu yang sederhana dan suaramu yang merdu. 

Kamulah yang menjadi alasanku untuk memperbaiki diri. Dan tanpa sadar rasaku padamu semakin dalam. Meski aku tak berani berkata cinta walau rongga hatiku sudah mulai terisi oleh pesona dalam diam lewat jiwa dan tatapan mata. 

Bahwa kehadiranmu memberiku makna yang berbeda. Dimana ada sebuah rasa yang ingin aku selalu ada. Berada di dekatmu, menatap wajah teduhmu, dan mendengarkan lantunan ayat-ayat suci dari mulutmu dikala kamu memuji Rabb-mu. Namun, lagi-lagi aku hanya mampu menatapmu dalam diam dari kejauhan dengan banyak rasa yang tersulam. Ah, menyebalkan sekali rasanya!

Namun, seiring waktu aku disadarkan olehmu, bahwa aku gak mencari apapun tentangmu tapi sesuatu yang disembunyikan sering di spill Tuhan dengan cara yang sempurna. Ya, sekali lagi aku memang mengagumimu, tapi sayang rasa kagum itu dipatahkan karena satu sifatmu yang sangat ramah dengan semua wanita yang bukan mahrommu. Maka sejak saat itu aku katakan pada diriku, 

“Dear aku... janganlah rindu, dia bukan mahrommu dan jangan cemburu karena dia bukan halalmu. Biarkan saja dia. Ketika kamu melihat dia sibuk bersama orang lain dan kamu sibuk memperbaiki diri, itu adalah tanda kasih sayang Allah kepadamu.”

Maka aku mencoba untuk mengistirahatkan hatiku, menjauh dari kehidupanmu dan terus sibuk memperbaiki diri. Sebab aku dan kamu bagaikan surat Yasin ayat 40 bahwa, 

"Tidak mungkin matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang, masing-masing beredar pada garis edarnya."

Apalagi aku yang seperti ini, banyak cacatnya, jika dibandingkan dengan mereka yang lebih bersinar. Hal itulah yang membuatku semakin patah ketika tau di luar sana banyak yang mendekatimu secara nyata. Menarikmu dengan kelebihan-kelebihan mereka. Bahkan banyak juga yang tak kalah sungguhnya memintamu dalam do'a. Jika membayangkan itu, aku merasa kalah.

Maka ku putuskan untuk mengistirahatkan hatiku dan menghilang dari pandanganmu. Berusaha untuk melupakanmu. Tapi, semesta selalu saja punya cara untuk membuatku mengingatmu secara tiba-tiba. Lewat pertemuan kita yang layaknya gerhana meski tanpa pernah bertegur sapa. Dimana setiap aku melihatmu, aku jatuh cinta lagi. Sedalam inikah rasaku padamu?

Heeeiiii... Siapa kamu?! Berani sekali kamu mengacak-acak istana hatiku. Aku hanya menemukanmu tanpa sengaja di jalan yang bernama kehidupan, lalu mencintaimu lewat do’a dan melangitkan namamu kepada Sang Pemilik Cinta. Sesederhana itu. Sebab kuyakin meski tak berpapasan, tapi saling memantaskan. Tak bertemu, tapi saling menunggu. Tak menginginkan tapi saling mendo'akan.

Aku pun telah banyak melewati air mata tapi aku tersesat di matamu. Allah menghendakinya dan hatiku hanya mematuhi-Nya. Tapi bagaimanapun dirimu datang sebagai cobaan untukku. Maka do'aku tak melulu tentang pengharapan tapi juga tentang keteguhan hati.

Maka, aku sangat berterimakasih padamu karena sudah menjadi perantara untuk kedekatanku dengan Rabb-ku, karena dari mengagumimu aku semakin dekat dengan Rabb-ku. Terimakasih telah menyadarkanku tempat pulang terbaik adalah Allah.

Kini aku memilih jalur langit untuk ikhlas karena aku tau yang gak ditakdirkan untukku akan menemukan caranya untuk menghilang. Dan yang ditakdirkan untukku akan menemukan caranya untuk pulang. 

Sebab, Allah tau kepada siapa cintaku tertuju tapi Allah lebih tau siapa yang terbaik untukku. Mataku terbatas untuk melihat dan menilai. Maka aku percayakan hatiku kepada-Nya yang tidak akan pernah membuatku kecewa. Maka ku ikhlaskan saja, ku sibuk berbenah diri agar menjadi versi terbaik Tuhanku.

Dear kamu, pemilik suara langit yang merdu... selamat berproses, silahkan berkelana, bertemulah dengan yang lainnya. Tenang aku masih disini dengan perasaan yang sama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hitam Putih Zaman Putih Abu-abu

Rahasia Ketenangan Hati

Beautiful in White