Rahasia Ketenangan Hati

Gambar
Dirinya dikelilingi cinta, pasangan, sahabat, kerabat, keluarga. Takkan ada satu malam pun ia merasa sendiri, sejuta kasih sayang dan perhatian yang ia miliki. Betapa beruntungnya, ia pasti bahagia. Dirinya dititipi kegelimangan harta, apapun yang diinginkannya, amat mudah menjadi miliknya. Betapa beruntung, ia pasti bahagia. Dirinya bertubuh cantik, sehat bugar nan idaman, pasti nyaman sekali menjalani hari tanpa keluhan, betapa beruntung, ia pasti bahagia. Dirinya memiliki segudang prestasi, belajar yang bagus, akademis yang bagus, satu persatu seluruh mimpinya ia capai, karirnya begitu sempurna hingga ia begitu dihormati betapa beruntung, ia pasti bahagia. Dahulu aku bermimpi untuk memiliki itu semua. Hal-hal yang kelihatannya membuatku bahagia tapi hari demi hari, aku mempelajari; Mengenal manisnya cinta mesti sepaket pula dengan pahitnya patah hati. Mengenal keberlimpahan mesti sepaket pula ketika saatnya Allah sedikitkan. Mengenal nyamannya sehat mesti sepaket pula ketika saatnya...

Orang Tuaku Toxic



Orang tuaku toxic? Ya, setiap aku berinteraksi dengan orang tuaku yang aku rasakan adalah minder, lelah, dan stress. Ketika keluarga yang seharusnya jadi pelindungku, justru menjadi penyebab lukaku. Sebenarnya sudah ada banyak cerita tentang perlakuan orang tua yang menyakiti anak, baik secara disadari maupun tidak dan banyak anak-anak yang sulit keluar dari situasi sulit karena dilema. Termasuk, aku takut dianggap melawan orang tua atau menjadi anak durhaka. Namun, sebelum aku curhat lebih jauh, perlu aku tekankan bahwa tulisanku ini nggak bertujuan nge-judge orang tuaku. Namun, supaya aku atau siapapun yang membaca tulisanku ini bisa sama-sama belajar agar setidaknya ketika aku menjadi orang tua nanti, aku nggak sampai menurunkan atau membuat luka buat anak-anakku kelak.

Dimana ciri-ciri orang tua toxic yang pernah aku alami sebagai anak adalah :

- Mereka membuat anak, terus merasa nggak cukup baik. Anak selalu salah di mata mereka. Selalu salah (-__-")

- Mereka terus membandingkan antar saudara atau dengan anak lain. Dan ini sering aku alami. Aku sering dibandingkan dengan keempat kakakku hanya karena aku masih belum bisa meraih impianku. Capek dan kesal rasanya.

- Ada anak yang terus jadi kambing hitam, ada yang jadi favorit. Ini menyakitkan sekali kurasakan. Sebagai anak bungsu, aku sering jadi tong sampah mereka, nggak dihiraukan. Nggak seperti kakak-kakakku yang lain.

- Mereka punya sikap yang berbeda saat di dalam dan di luar rumah. Aku paling sebel ini, kalau ada tamu kenapa mereka harus spill kekuranganku, kecacatanku dan selalu menonjolkan jerih payah kakak-kakakku. Apa yang sudah aku pernah perbuat tak pernah terlihat (-__-"). Bukan karena aku gila pujian, tapi setidaknya janganlah menghilangkan semua yang sudah pernah aku lakukan. Nyesek banget tau nggak!

- Mereka nggak punya batasan fisik dan emosional yang jelas. Kadang aku juga nggak tau kenapa tiba-tiba mereka marah dan ujung-ujungnya pelampiasannya ke aku. Kadang diajak ngomong tapi jawaban mereka salah persepsi dan ujung-ujungnya aku capek sendiri. Jadi lebih baik aku memilih diam.

- Mereka nggak terlalu peduli perasaan anak. Sering banget ngerasain posisi ini. Pengen cerita tapi aku nggak punya rumah untuk bercerita. Ujung-ujungnya aku ngomong sendiri dan dijawab sendiri. Paling mentok nulis dan dijawab sendiri.

- Jika ada prestasi anak, mereka menganggap itu sepenuhnya “jasa” mereka. Ya, nggak salah sih tapi setidaknya berikanlah apresiasi, bukan malah menganggap sepenuhnya usaha mereka.

- Ketika anak berusaha speak up, mereka menyepelekan atau menghina atau memarahi. Kadang sedih banget aku mau cerita tapi belum apa-apa sudah dibikin down duluan. Jadi aku berpikir buat apa aku ngomong atau cerita tapi nggak ada tempat buat aku bercerita. Mereka membuat lingkungan yang bikin aku jadi serba salah dan nggak memberiku kebebasan berpendapat. Akhirnya paling mentok aku nulis di diary seperti ini (-__-")

Orang tua toxic nggak bisa menghargai prinsip dan batasan yang aku miliki. Ketika aku punya pandangan berbeda, aku dibuat merasa bersalah. Aku nggak punya kebebasan menjadi diri sendiri dan berpendapat. Aku seperti banyak salah, dan orang tuaku selalu benar. Seperti itu. 

Jadi dari semua penjelasan yang aku sebutin tadi, singkatnya sih, orang tua disebut toxic ketika mereka nggak melakukan tanggung jawab sebagai orang tua, yang bukan jadi tempat aman bagi anak-anak mereka. Namun, justru jadi ancaman, lewat sikap yang nggak dewasa. Nggak harus dalam bentuk ancaman fisik atau verbal tapi juga lewat perlakuan sehari-hari.

Banyak orang tua menganggap anak adalah milik mereka, sehingga mereka ingin mengatur segalanya sesuai keinginan mereka. Jika nggak sesuai keinginan mereka, malah menyalahkan orang lain dan marah. Namun, mereka nggak merasa salah, malah sering menurut mereka itu justru wujud kasih sayang.

Dan dari sekian banyak kasus, aku belajar bahwa sikap toxic pada orang tua bermula dari luka mereka sendiri yang nggak terobati. Aku sadar sih dan sedih jika ingat masa lalu kedua orang tuaku yang hidup susah dan berjuang dari keterpurukan mereka. Dimana hal itu yang membuat mereka terluka, yang tanpa mereka sadari anak akhirnya jadi korban pelampiasan luka ini. Dan “bullying” pertama yang dialami anak, justru seringkali dilakukan orang tua sendiri. Anak akan cenderung percaya pada apapun yang dikatakan pada mereka, seperti :

“Awakmu nyusahno wong tuo ae!”

“Mending nggak duwe anak!”

“Mending melu anakku sing nang Makassar, nggak susah ngene aku.”

“Duwe anak kok koyok ngene!”

“Anakku akeh tapi gak koyok awakmu ngene iki!”

Jujur aku down mendengar ungkapan itu. Bawaannya pengen mati ajah. Berasa aku itu aib buat keluarga. Seperti kelahiranku ini beban buat mereka. Capek hidup di lingkungan keluarga yang nggak sehat, yang pada akhirnya pasti berdampak pada kesehatan mental juga. Anak yang tumbuh tanpa role model yang baik lebih rentan terjerumus hal-hal buruk. Sayangnya ketika itu terjadi, anak justru makin disalahkan dan mereka nggak merasa jadi salah satu sebabnya.

Lalu apa yang harus aku lakukan?

- Tetap hormati orang tua. Biar bagaimanapun, tanpa mereka aku nggak akan ada. Tiap agama juga pasti mengajarkan untuk menghormati orang tua. Tapi aku buat batasan untuk menjaga hatiku, tapi tetap sopan pada mereka. Tiap kali aku kesal, aku mencoba ingat bahwa mereka mungkin punya luka sendiri. Aku nggak mau nambahin luka mereka.

- Menjauh tapi bukan untuk memusuhi. Ada kalanya aku juga lebih tenang dan punya suasana baru. Dengan ada jarak, ada pula kesempatan saling intropeksi.

- Aku nggak perlu berusaha mengubah mereka. Meski aku sadar kekurangan mereka, aku nggak bisa mengendalikan mereka. Apalagi makin tua kepribadian seseorang, makin susah diubah. Kalau aku memaksakan, yang ada aku jadi malah sakit sendiri. Cukup doain ajah mereka agar dapat berdamai dengan diri mereka.

- Dan yang paling bisa aku ubah adalah diriku sendiri. Belajar memaafkan untuk ketenanganku. Lalu, belajar mengatur cara pandangku. Bersikap tegas dan mengetahui apa yang bisa aku lakukan dan tidak.

- Dan terakhir, aku putuskan untuk sembuh dari lukaku dan aku gunakan pengalamanku sebagai pelajaran. Ketika aku punya anak nanti, aku nggak mau mengulang siklus rantai setan ini ke anakku kelak. Aku lebih belajar berempati, komunikasi, dan nggak takut untuk mengakui ketidaksempurnaanku. 

Dan aku akan putuskan untuk menjadi orang tua yang hadir untuk anakku nanti. Sebab bagiku menjadi ibu adalah tentang belajar. Belajar dari anak kecil yang nggak mengenal dendam. Kesabarannya nggak terbatas, tetap cinta dan mencari meskipun sudah dimarahi. Kenapa begitu? Karena anak adalah makhluk kecil yang selalu memaafkan kesalahan orang tuanya, yang selalu datang mendekat dan memeluk orang tuanya meski hatinya telah dilukai dengan bentakan atau teriakan. Seperti yang aku lakukan setiap hari. Mencoba berdamai dengan segala keadaan agar aku nggak jadi orang toxic. Sebab orang toxic itu biasanya suka playing victim. Mereka nggak pernah mau disalahkan dan melemparkan kesalahan ke orang lalu pergi dengan rasa bersalah.

Intinya, mereka yang paling bersih deh. Mereka yang paling korban. And, that’s just so toxic. Sayangnya tanpa sadar, orang yang sering memainkan kartu playing victim ini adalah diri kita sendiri ya. Wajar sih karena kita nggak pernah mau salah, kita selalu subjektif sama diri kita. Tapi, yang salah tetaplah salah. We could be toxic for some people. Nggak ada manusia yang seratus persen bersih dari salah. So, please, take the blame you should’ve made, apologize and forgive. Biar kita nggak jadi orang yang lebih toxic :)

Maaf ya agak panjang curhat episode kali ini. Sebelum aku tutup aku pengen mengapresiasi diriku sendiri, karena ini sebagai caraku agar tetap waras... Hehe...

Dear aku... Aku bangga pada diriku sendiri. Aku bangga pada versi terbaik maupun versi terburuk diriku. Yang kemarin gagal bahkan sekarang pun masih tertatih-tatih. Yang hari ini lemah. Yang sering salah dan disalahin. Yang jadi tempatnya lupa. Yang sering dibandingin dengan yang lain. Yang sering dikecewakan. Alhamdulillah... Aku menerima dengan lapang apa yang menjadi kurangku dan aku bersyukur atas apa yang selama ini Allah izinkan menjadi lebihku. Semuanya cukup. Terimakasih ya sudah bertahan selama ini. I love me.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hitam Putih Zaman Putih Abu-abu

Rahasia Ketenangan Hati

Beautiful in White