Rahasia Ketenangan Hati

Gambar
Dirinya dikelilingi cinta, pasangan, sahabat, kerabat, keluarga. Takkan ada satu malam pun ia merasa sendiri, sejuta kasih sayang dan perhatian yang ia miliki. Betapa beruntungnya, ia pasti bahagia. Dirinya dititipi kegelimangan harta, apapun yang diinginkannya, amat mudah menjadi miliknya. Betapa beruntung, ia pasti bahagia. Dirinya bertubuh cantik, sehat bugar nan idaman, pasti nyaman sekali menjalani hari tanpa keluhan, betapa beruntung, ia pasti bahagia. Dirinya memiliki segudang prestasi, belajar yang bagus, akademis yang bagus, satu persatu seluruh mimpinya ia capai, karirnya begitu sempurna hingga ia begitu dihormati betapa beruntung, ia pasti bahagia. Dahulu aku bermimpi untuk memiliki itu semua. Hal-hal yang kelihatannya membuatku bahagia tapi hari demi hari, aku mempelajari; Mengenal manisnya cinta mesti sepaket pula dengan pahitnya patah hati. Mengenal keberlimpahan mesti sepaket pula ketika saatnya Allah sedikitkan. Mengenal nyamannya sehat mesti sepaket pula ketika saatnya...

Maaf Jika Aku Jadi Beban




Dear aku... Jangan bunuh diri ya. Benar-benar sudah buntu ya? Rasanya pengen mati ajah ya? Orang-orang juga nggak peduli lagi ya sama kamu? Keberadaanmu di sini juga nggak terlalu dianggap ya? Pasti capek kan bertahan sendirian. Belum lagi kondisi keluarga yang toxic. Pasti capek ngadepinnya.

Mereka melihatmu harus berhasil tapi nggak ada support system atau feedback yang baik yang kamu terima. Gimana nggak stress, kamu berjuang sendiri dengan luka-lukamu. Setiap hari dipaksa berdamai dengan keadaan. Belum lagi hatimu terus merasa.

"Mau bertahan untuk siapa lagi?" 
"Mau bertahan untuk apa lagi?"
"Percuma aku di sini, cuma jadi beban, ya kan?"
"Alasan apalagi untuk aku bertahan hidup kalau aku cuma jadi beban? Gak memberi manfaat?"

Hai aku....  Apapun anggapan yang kamu berikan untuk dirimu, kamu masih penting bagi seseorang kok, untuk sesuatu dengan cara yang nggak pernah bisa kamu lihat.

Kamu ingat kata Alvi Syahrin bahwa terkadang kita nggak tahu kenapa awan mendung datang tanpa menurunkan hujannya. Tetapi, setidaknya kita merasakan teduhnya. Kadang kita nggak tahu kenapa hujan turun sekejap saja. Tetapi, setidaknya ia membasahi tanah yang kering. Kadang kamu nggak tahu kenapa kamu masih ada di sini. Tetapi setidaknya ada seseorang yang mensyukuri keberadaanmu dalam diam. Entah itu seseorang yang ditakdirkan untukmu. Atau kenapa kamu masih di sini, mungkin karena Allah masih memberikanmu kesempatan untuk bertobat, mengikis dosa-dosamu lewat kepayahan dan kesakitan yang kamu alami selama ini. Semangat ya hai diriku.

Mungkin kamu nggak tahu meski orang tuamu sering memarahimu, dan seakan kurang menghargai keberadaanmu, tapi mereka masih bersyukur kamu ada dan sehat. Meski kamu selalu kalah dengan saudara-saudaramu yang lebih menonjol. Perlu kamu ketahui hai diriku, nggak semua orang yang mencintaimu selalu menunjukkan bahwa mereka mencintaimu. Kamu nggak tahu ada seseorang di luar sana yang mungkin tak pernah melupakan kebaikanmu di masa lalu, mensyukuri keberadaanmu dan mengharapkan kebaikan untukmu.

Dan, masalah jadi beban, pada dasarnya semua manusia adalah beban untuk satu sama lain, kok. Anak jadi beban orang tua. Orang tua jadi beban untuk anak. Seorang teman jadi beban untuk teman lainnya. Ini adalah hal-hal yang manusiawi. 

Dan, aku salut kamu selama ini telah berusaha keras untuk tidak sekedar menjadi sebuah beban dan tak mengakhiri hidupmu, tetapi dengan berusaha bermanfaat meski secuil manfaat di dunia yang luas. Secuil manfaat tetaplah manfaat. Lagi pula, mana pernah Allah menciptakan sesuatu yang sia-sia, kan? Termasuk menciptakanmu.

Dear diriku... Kalau kamu nggak bisa lagi bertahan untuk dirimu sendiri, plisssss... aku minta kamu bertahan untuk Allah ya... Bertahanlah untuk Allah yang telah menciptakanmu penuh hikmah, yang telah memberimu privilege untuk hidup, yang menurunkan rezeki berupa makanan setiap hari, yang masih setia memberikanmu oksigen bahkan di saat kamu lupa kepada-Nya.

InsyaAllah, nanti di waktu yang tepat Allah akan menganugerahkanmu kematian yang tenang, yang indah, sebab meski sakit luar biasa untuk bertahan, kamu tetap bertahan karena Allah, menjaga dirimu dari menyakiti diri sendiri, menjauhi dirimu dari sesuatu yang salah. Rasa sakitnya luar biasa memang. Namun rasa sakit ini akan terbayar, karena surga mahal harganya.  Sekarang teruslah berdoa dan berharap dan berjuang dan terus berjuang dan menunggu sampai kematian yang baik datang sesuai waktunya.

Semangat ya diriku, jangan menyerah...  

Ibu maafkan putrimu ini, terimakasih telah melahirkanku. Maaf karena belum bisa mengukir bahagia di wajahmu. Maaf karena aku belum bisa menanam bangga dalam hatimu. Maaf untuk semua air mata yang kau tumpahkan karenaku. Maaf karena belum mampu menghapus beban di tubuh lelahmu, Bu. 

Ibu, terimakasih untuk cinta dan doamu untukku. Sekali lagi maafkan aku, maaf.

Ya Rabb... Jika sampai akhir hayatku, aku masih belum bisa membahagiakan kedua orang tuaku, maka aku mohon ya Allah tolong bahagiakan mereka dengan caramu. Berikanlah mereka kebahagiaan lahir maupun batin, di dunia maupun di akhirat. 

Ya Rabb... Sebagai orang tua, mereka juga menginginkan aku segera menikah agar ada seseorang yang bisa menggantikan tugas mereka untuk menjagaku, tapi ya Allah jika memang aku nggak memiliki jodoh di dunia ini, tolong Engkau ambil aku terlebih dahulu sebelum orang tuaku. Bukan hanya karena ketakutan orang tuaku karena nggak ada yang menjagaku, tapi juga ketakutanku hidup sendiri tanpa mereka.

Maaf melow banget hari ini... T__T

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hitam Putih Zaman Putih Abu-abu

Rahasia Ketenangan Hati

Beautiful in White